Aula SMA Pradita Dirgantara mendadak riuh. Seorang siswa terlihat tergeletak tak bergerak di tengah ruangan. Napas tak terdengar, denyut nadi tak terasa. Dalam hitungan detik, suasana berubah tegang.
“Ini kondisi henti jantung, didahului cedera berat akibat trauma,” ujar instruktur dengan suara tegas.
Namun, kepanikan tersebut bukan kejadian nyata. Itulah simulasi pelatihan Basic Trauma and Cardiac Life Support (BTCLS) yang diberikan oleh tim medis RSPAU dr. S. Hardjolukito kepada 325 siswa SMA Pradita, Sabtu (31/1/2026).
Melalui simulasi ini, ratusan siswa menyaksikan secara langsung bagaimana penanganan trauma dan kondisi kegawatdaruratan jantung dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Simulasi dirancang sedekat mungkin dengan situasi nyata, membuat aula yang biasanya tenang berubah menjadi ruang pembelajaran penuh adrenalin.
Pelatihan BTCLS ini dihadiri oleh Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito, Direktur Umum SMA Pradita, jajaran guru dan staf SMA Pradita, serta pejabat RSPAU. Kehadiran para pimpinan tersebut menegaskan pentingnya pembekalan keterampilan penanganan trauma dan penyelamatan nyawa sejak usia sekolah.
Materi pelatihan disampaikan dalam dua sesi utama. Pada sesi pertama senga narasumber Letkol Kes dr. Gideon Ardhya Trinovianto, Sp. B. memaparkan materi penanganan trauma, mulai dari penilaian kondisi korban, penanganan cedera serius, hingga langkah awal yang harus dilakukan sebelum bantuan medis lanjutan tiba. Siswa diajak memahami bahwa penanganan trauma yang tepat menjadi faktor krusial dalam menyelamatkan korban.
Ketegangan semakin terasa pada sesi kedua saat Letkol Kes dr. Luhur Pribadi, Sp. JP. memandu materi Bantuan Hidup Dasar (BHD), termasuk penanganan henti napas dan henti jantung. Simulasi dilakukan secara detail untuk menggambarkan betapa sempitnya waktu yang dimiliki saat menghadapi kondisi tersebut.
“Jika terlambat beberapa menit saja, nyawa bisa melayang,” ujar instruktur saat simulasi berlangsung.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung. Para siswa bergantian mencoba teknik penanganan trauma dan pertolongan hidup dasar di bawah pendampingan tim medis RSPAU. Riuh suara instruksi, diskusi, dan rasa penasaran menyatu menjadi pengalaman belajar yang membekas.
Melalui pelatihan BTCLS ini, RSPAU dr. S. Hardjolukito menanamkan pesan penting kepada para siswa bahwa setiap orang bisa menjadi penolong pertama, dan satu tindakan cepat serta tepat dalam penanganan trauma maupun henti jantung dapat menentukan hidup dan mati seseorang. Humas RSPAU

Komentar